Elizabeta Hédérvary, namaku. Seorang gadis berdarah Hungaria. Seorang
fujoshi andal yang pandai beladiri menggunakan teflon –yeah, aku tahu
kalau teflon itu bukan senjata yang umum-. Seorang perempuan yang sangat
not-woman-mannered, bahkan dulu aku mengira kalau aku ini
seorang laki-laki. Haha, konyol bukan? Tentu tidak. Aku ini tomboy,
sangat tomboy. Kalau saja bukan karena rambut cokelat panjang
bergelombang dan bunga yang kusematkan di rambutku ini, bisa saja orang
mengiraku laki-laki. Oh, tentu saja. Aku tahu hanya orang kelewat bodoh
yang akan mengiraku sebagai seorang laki-laki meskipun atribut yang
kusebutkan tadi tak kukenakan. Untungnya, bergabung dengan klub tata
boga membuatku merasa lebih… cewek. Lagipula, apa gunanya teflon bila
tak dimanfaatkan di atas kompor?
Banyak orang yang mengatakan aku
cantik –kuakui, itu terasa lebih baik daripada orang mengatakan aku
tomboy-. Banyak laki-laki yang mengerling setiap aku lewat. Namun tak
ada yang pernah benar-benar menarik perhatianku sepenuhnya –itu dulu,
setidaknya-. Aku sudah bilang kalau aku fujoshi, kan? Tapi bukan berarti
itu membuatku tidak menyukai laki-laki. Aku bukan seorang yang
terkontaminasi 'yuri'. Aku tertarik pada laki-laki. Dan kini, aku
tertarik pada seseorang.
Tertarik pada seseorang. Kini aku
menyukai seseorang. Ia –orang yang kusukai- orang yang hebat, tampan,
dan berwibawa. Aku menyukainya. Sangat menyukainya –sudah berapa kali
aku mengatakan kata 'suka' dan 'tertarik'?-. Tapi aku senang karena aku
mengatakannya berulang kali. Orang itu, orang yang sudah membuat
jantungku berdetak sangat cepat saat pertama kali melihatnya, bahkan
hingga saat ini, saat dimana aku sedang menjalani proses pendekatan
padanya.
Ah, ingin rasanya aku punya kisah romansa seindah Viet.
Berdua dengan Thai-nya tercinta. Tak ada yang memisahkan. Sungguh
serasi, sungguh romantis. Atau seperti Nesia. Bagaimana rasanya
diperebutkan oleh dua orang laki-laki keren nan tampan? Tanyakan pada
gadis Melayu itu. Atau mungkin seperti Natalya. Kau mungkin bertanya
bagaimana bisa aku iri pada Natalya. Bukan, bukan karena usaha kerasnya
dalam 'meraih' sang kakak. Bukan. Tapi karena ada Toris. Toris
Laurinaitis. Pemuda Lithuania yang baik hati dan ramah itu selalu
menerima Natalya apa adanya. Ia juga sering menghibur Natalya saat ia
ditolak oleh Ivan. Apa yang membuatku heran adalah kenapa Natalya tidak
meng-imprint –oh maaf, Natalya kan bukan werewolf- maksudku, tidak
menyukai Toris.
Tapi orang yang kusukai ini berbeda dengan mereka.
Dingin, namun ramah. Berwibawa namun tampan. Seorang murid kelas lain
yang seangkatan denganku. Pintar dalam hal akademik maupun non-akademik.
Mahir memainkan piano. Mahir berpidato. Mahir membuat orang sepertiku
tertarik bahkan dalam pandangan pertama. Mahir…
Sret.
Mahir membuatku langsung terpana tak berdaya bahkan hanya dengan berada seruangan yang sama dengannya.
Ya,
orang yang barusan lewat itu. Yang membuatku terdiam sejenak dengan
mulut terbuka itu, yang bisa-bisanya membuat jantungku sakit saking
cepatnya bergerak. Orang itu. Dengan mariazell-nya yang khas, rambut
auburn indah, dan mata violet yang sungguh membuatku betah untuk
menatapnya.
Ya, orang itu.
Roderich Edelstein
Hetalia © Hidekaz Himaruya
Music Class © Rheyna Rosevelt
WARNING!
Typo(s), OOC, OC, AU, klise (maybe. it's up to you), Gilbert tortured (?), hints of yaoi. I've warn you.
Don't like? Don't read!
We need review, not flame.
"Baiklah,"
Roderich Edelstein, sang ketua klub musik berdeham di depan. Matanya
menjelajahi seluruh ruangan, memastikan semuanya hadir kecuali yang
sudah meminta ijin dan ada keterangan. Ia mengernyit ke arah pria
albino bermata sewarna rubi yang tengah duduk setengah tertidur sambil
malas-malasan.
Roderich berdeham sekali lagi, "Gilbert Beildschmidt, bisakah kau bersikap sopan di dalam ruangan?"
Aku
mendengus sambil menatap pria albino tadi yang duduk persis di
sebelahku, "Gil, Gilbert! Bangun, hoi! Kau diperhatikan ketua, tahu!"
Oh, aku belum bilang ya kalau aku juga mengikuti klub musik sebagai ajang pendekatanku pada pemuda ini?
Orang yang dipanggil Gilbert itu hanya tertawa kecil, "Biar saja, Eli. Memangnya, apa masalahku?"
Wajahku
merona karena ia memanggilku dengan nama kecilku –ya, Gilbert
Beildschmidt dan Roderich Edelstein adalah teman masa kecilku-. Aku
berbisik sekali lagi, menyadari si pemuda berdarah Austria yang ada di
depan ruangan sudah mulai menatap Gilbert dengan pandangan
kubunuh-kau-dengan-nada-Chopin-ku, "Gil, bangun. Ketua bisa marah…"
"Paling-paling marahnya dengan bikin tuli orang pakai Chopin. Dasar ketua nggak awesome."
Oke,
itu usaha terakhirku. Roderich –yang kupanggil ketua- sudah memerah
wajahnya, pertanda menahan luapan kemarahan. Aku harus segera bertindak.
Kalau Roderich sampai mengamuk, hancur sudah hari Senin yang
membahagiakan ini. Mau tak mau, frypan-ku harus turun tangan.
BUK.
"Terima
kasih, Hédérvary," Roderich tersenyum manis padaku (hanya padaku,
kuingatkan kalian!).
Aku balas tersenyum sambil tangan kananku
mengembalikan frypan-ku lagi ke dalam tas. Gilbert? Pingsan di ujung
ruangan. Peduli amat apakah dia masih bernapas atau tidak.
"Nah,"
kata Roderich lagi, "Materi hari ini, kita tidak akan belajar memainkan
Chopin. ("Tentu saja! Kita sudah mencobanya sepuluh kali!" teriak
anggota klub lainnya) Tapi kita akan membuat lagu kreasi kita sendiri.
Dalam waktu satu setengah jam, kuharap kalian bisa menyelesaikannya.
Kita anggap Beildschmidt absen. Baik, kita mulai dari sekarang."
Dan sedetik kemudian, ruangan dipenuhi dengan nada patah-patah dari belasan piano yang berjejer dengan rapi.
"Hédérvary, kau sudah selesai membuat not solmisasi-nya?"
Aku
menengadahkan kepalaku dari selembar kertas yang sedari tadi menjadi
pusat perhatianku. Mata hijauku bertemu dengan mata violetnya. Membuat
jantungku berdegup lagi.
"I-iya, Edelstein-san…"
Dan aku berharap bisa menjadi kekasihnya, padahal aku masih memanggilnya dengan nama belakangnya?
"Bagus. Bisa kulihat?"
Dengan
malu-malu aku menyerahkan selembar kertas bercoretkan not-not balok dan
nada solmisasi. Roderich menatapya cukup lama, lalu tersenyum.
"Karya yang indah, Hédérvary. Indah, melodis. Akan kau namai apa nada buatanmu ini?"
Aku
terdiam sebentar, berusaha memanggil tuan ide. Beberapa saat kemudian,
dengan sebuah kata yang sudah terpatri jelas di pikiranku, aku menjawab
pertanyaan Roderich dengan semangat.
"I love before V!"
Alis Roderich yang masih normal –dalam artian tidak setebal milik Arthur- terangkat.
"'I love before V?' Maksudnya?" tanyanya sangsi.
"Ya 'I love before V'! Artinya rahasia!" Aku terkikik melihat raut wajahnya yang kebingungan.
"Baiklah…" Roderich merespon, "kepada siapa kau persembahkan lagu ini?"
"Kenapa kau menanyakan itu?" aku balas bertanya secara refleks.
Roderich mengangkat bahunya, "Hanya penasaran. Sepertinya lagumu ini untuk seseorang yang kau sayangi…"
"Untuk seseorang," aku menyeringai kecil. Ia mengangkat alisnya lagi. "Memang benar, untuk seseorang."
"Siapa?" tanyanya, berusaha mencari tahu.
"Privat." kataku pendek.
"Sebegitu
pentingnyakah orang itu bagimu, sehingga kau mempersembahkan karyamu
ini padanya?" tanya Roderich lagi. Alisnya sedikit mengenyit, menandakan
ia tidak terlalu suka dengan inti pembicaraan kami.
Aku terdiam sebentar. Lalu senyum samar muncul di wajahku.
"Sangat. Aku bahkan tak bisa membayangkan bagaimana hidupku tanpanya."
Uh, oh. Aku tak tak tahu apaah aku telah mengatakan hal yang salah. Alis Roderich menyatu tanda ia tak suka.
"Begitu?"
Dan aku terkejut mendapati nada sinis dalam ucapannya. Aku menatapnya dengan heran. Ia bals menatapku dengan pandangan marah.
"Roderich, kenapa?"
Aku memanggilnya dengan namanya. Ia hanya mendengus, lalu mengalihkan perhatiannya sambil berlalu.
"Tidak. Tidak ada apa-apa."
Ia
berjalan mendekati Ludwig, adik Gilbert, yang juga sedang mengaransemen
sebuah lagu. Mereka berbincang sejenak. Aku hanya bisa terdiam,
mencerna maksud dari perkataan sang maniak Chopin itu.
"Hei,"
Sey membuka pembicaraan begitu aku dan anggota "Fujodanshi Club"
lainnya berkumpul di kafetaria, "Apa ada yang tahu Roderich kenapa? Ia
jadi pemarah sekali seharian ini."
Aku menyetop sesendok parfait yang hendak masuk ke mulutku. Yang lainnya saling manatap kebingungan.
"Aku baru tahu," Bella menyuapkan sesendok kue cokelat ke dalam mulutnya, "Yang lain ada yang tahu?"
"Lagi dapet kali, makanya sensi gitu." jawab Natalya cuek, dan sukses mendapatkan getokan dari kakaknya, Yekaterina.
"Nat, Roderich itu cowok," Mei-Mei tertawa garing. Yang lainnya sweatdrop.
"Menurutmu
sendiri bagaimana, Eliza?" tanya Yekaterina sambil tersenyum miring ke
arahku. Aku menatapnya dengan pandangan bertanya, biarpun rona merah
perlahan muncul di wajahku.
"Apa?"
"Jangan bercanda," kata
Viet pelan, "Kami tahu kalau kau menyukainya, jadinya kami tak tega
mengambil foto-foto PrusAus, GerAus, atau AusSwiss untuk dokumentasi,
biarpun itu memang benar adanya."
"Viet," tegur Nesia pelan.
"Lho, itu memang benar, kok." jawab Viet cuek. Ia kembali memakan rotinya.
"Eh,
aku tak tahu apapun," kataku sedikit sangsi, lalu melanjutkan makan.
Sementara Lilli yang
sedari tadi diam mulai angkat bicara.
"Roderich
memang dari tadi marah-marah terus," kata adik Vash itu, suaranya cukup
pelan hingga yang lainnya harus mencondongkan tubuhnya untuk bisa
mendengarkan, "Waktu pertemuan klub musik tadi, dia tampak marah. Aku
juga bingung kenapa."
Semuanya manggut-manggut. Aku tertegun.
Memang, murid perempuan yang ikut klub musik ada tiga orang. Aku, Lilli,
dan Bella. Cukup hebat juga si gadis Liechtenstein bisa mengingat hal
tersebut. Aku saja sudah nyaris lupa.
"Ah!" Bella sedikit memekik,
"Aku ingat! Saat membuat lagu tadi, ia sempat mendekati Ludwig dan
ngobrol dengannya, kan? Aku ada di depan Ludwig dan tak sengaja
mendengarkan pembicaraan mereka!"
Semuanya kini berganti menatap si maniak cokelat.
"Mereka membicarakan apa?" tanya Kiku tertarik.
"Kekasih."
Hening.
.
.
.
"Hah?" Baru setelah pulih dari shock, semua berseru serempak, "Kekasih?"
"Iya,"
Bella dengan tenang mulai menyantap es krim cokelat, "Pertamanya mereka
membicarakan Feliciano, lalu entah kenapa berlanjut dengan Ludwig
menanyakan tentang Roderich sendiri."
"Tentang Roderich sendiri?" Nesia mengernyit.
"Dia menanyakan tentang kekasih Ludwig sendiri, mungkin." tebak Sey.
Bella menyeringai, "Memang begitu."
Hening lagi.
.
.
.
"Haaah?"
Aku
ternganga lebar, antara terkejut dan tidak percaya. Kulihat semuanya
juga bereaksi sama, meskipun tidak separah diriku. Bella malah mengaduk
es krim denga santainya, seolah kalimat yang baru saja ia ucapkan tadi
tidak menimbulkan euforia besar seperti ini.
"A-apa jawabannya?" tanyaku tergagap. Bella memandangku sebentar dan tersenyum.
"Roderich
jawab, kalau ia sudah menemukan seseorang yang ia sukai." Bella
memandang sekeliling,
"Aku tak tahu siapa yang dia maksud, kalau kau mau
bertanya tentang itu, Eliza."
Aku terdiam. Tanganku mengepal, agak basah karena keringat. Mataku tiba-tiba basah. Teringat akan sesuatu.
"Ah," Bella melanjutkan, "Bukannya mau memicu kecemburuanmu atau apa, Eliza, tapi aku hanya ingin kau tahu saja."
Semuanya terdiam, giliran menatapku.
"Katakan."
aku berkata dengan suara serak. Khawatir. Ya, perasaanku kini khawatir.
Khawatir bila ternyata orang yang kusukai ternyata menyukai orang lain.
Cemas. Khawatir. Dan cemburu. Ada rasa cemburu perlahan muncul.
"Setelah mengatakan hal itu, Roderich mendatangi Gilbert dan membantunya menuju UKS."
Deg.
Dan detik berikutnya, Natalya menyangga tubuhku yang mendadak terasa sangat ringan.
"…liza…"
"Eliza…"
Aku
membuka mataku begitu mendengar suara yang sangat kukenal ini. Suara
ini, suara merdu ini.
Perlahan, setelah menyesuaikan mata dengan cahaya
yang terlampau terang, aku menelengkan kepalaku dan tersenyum samar.
"Roderich,"
Roderich
tersenyum. Ia mengelus kepalaku, "Dasar kau ini. Ngapain pakai acara
pingsan-pingsanan segala, hah? Aku jadi khawatir, tahu! Untung saja
Gilbert sudah pulih…"
Mendengar kalimat terakhir Roderich, mataku
kembali melebar. Aku bertanya degan suara serak tertahan. Oh, Tuhan.
Apakah benar wanita itu paling lemah dengan yang namanya cinta dan kasih
sayang?
"Kau... hubungan apa yang ada antara kau dan Gilbert?"
Hening lagi. Aku mulai bosan. Sudah tiga kali keheningan menerpaku.
"Kami hanya sebatas sahabat…"
Aku
mulai merasa kesal dengan air mata yang merebak. Apa-apaan ini?
Elizabeta Hédérvary, kau ini perempuan yang tegar! Kau ini perempuan
yang kuat! Masa' hanya dengan kejadian seperti ini saja kau menangis?
"Sebatas sahabat?"
Rupanya Roderich menyadari nada tersinggung dalam suaraku. Ia mengangkat alisnya.
"Apa maksudmu dengan 'sebatas sahabat', Eli?"
"Siapa 'orang yang kusukai' itu, Roderich?"
Hening lagi. Ingin sekali aku menampar keheningan itu dengan frypan-ku.
"Ahahaha, maksudmu apa?" tanya Roderich sambil menggaruk bagian kepalanya yang –tentu saja- tidak gatal.
"Aku
tahu percakapanmu dengan Ludwig saat pertemuan klub musik tadi pagi,"
kataku sigkat.
Senyum Roderich perlahan memudar dan tangannya bergerak
turun, "Kau bilang kau menyukai seseorang. Siapa dia?"
Bersamaan
dengan mulutku yang menutup, pintu UKS terbuka dan menampilkan sosok
pemuda berambut perak masuk dengan sangat 'awesome'-nya.
"Yo! Roddy, aku yang awesome ini datang! Eh, Eli sudah bangun?"
Tak
ada yang merespon. Aku tercekat. Gilbert memanggil Roderich dengan
panggilan 'Roddy'?
Jelas itu adalah panggilan sayang. Aku sendiri tidak
pernah memakai panggilan seperti itu.
Bagaimana bisa Gilbert…
Roderich menghela napas dan menatap Gilbert, "Bisakah kau diam, Obaka-san? Eli baru bangun dan kau malah mengganggunya!"
Aku
semakin terdiam. 'Obaka-san'? Apalagi itu? Mereka berdua sudah
memanggil satu sama lain dengan panggilan seperti itu. Mengingatkanku
dengan 'suami istri bahagia', Tino dan Berwald.
Hingga tiba-tiba, sebuah ingatan muncul dalam pikiranku.
"
Kami
tahu kalau kau menyukainya, jadinya kami tak tega mengambil foto-foto
PrusAus, GerAus, atau AusSwiss untuk dokumentasi, biarpun itu memang
benar adanya."
"
Viet,"
"
Lho, itu memang benar, kok."
Aku langsung bangkit. Rasa pusing langsung hilang. Roderich sempat menahanku tadi, namun aku balas menatapnya dengan mata merah.
"Eli?" Roderich terkaget, "Kau menangis? Ada apa?"
Gilbert
menghampiriku dan ikut menahanku, "Berbaring saja, nona tak awesome.
Kau sudah membuat Roddy khawatir setengah mati tahu. Untung saja aku
yang awesome ini datang untuk menenangkannya…"
BUK
Gilbert
terkapar lagi, untuk kedua kalinya dalam sehari, dengan benjolan sebesar
bola bekel di dahinya. Aku mengembalikan frypan mautku ke dalam tas,
dan berlari pergi. Sudah pukul dua.
Seharusnya bel pulang sudah
berdentang.
Tak menghiraukan panggilan dari Roderich di
belakangku, aku terus berlari. Tak menghiraukan tatapan heran
murid-murid lain. Kini tujuanku hanya satu.
Rumah.
Ya, rumah. Bukan dalam artian asrama yang kutinggali bersam Bella dan Lilli. Tapi rumah.
Rumahku.
Roderich
hanya bisa tersenyum kecut. Ia melirik Gilbert yang terkapar dengan
keadaan setengah sadar, "Lihat apa yang sudah kau lakukan, Obaka-san.
Kau terlalu jauh dari peranmu, tahu."
Gilbert hanya tersenyum, "Aku kan juga menyukainya. Kita ini rival. Ingat, Roddy?"
Aku
duduk terdiam di depan bosku, yang menatapku dengan khawatir. Beberapa
menit lalu, beliau
hanya bisa menghiburku dengan mengelus-elus pundakku
sementara aku menangis sesenggukan.
"Elizabeta Hédérvary," kata
bosku dengan lembut, "Aku tahu kau ini wanita. Aku tahu kau ini sang
personifikasi negara kita, Hungaria. Tapi kenapa hanya gara-gara pria,
kau lantas menangis seperti gadis muda?"
Nah, lho. Bahkan bosku malah berlatih mengucapkan kalimat demi kalimat dengan berima.
Aku menghapus air mata yang sudah menggenang di pelupuk mataku, "Maaf, bos."
"Apa kau sudah bosan dengan sekolahmu?"
Mata hijauku kini menatap sosok pria tua yang ada di depanku. Ia menatapku dengan sedikit cemas.
Aku buru-buru menggeleng, "Tidak aku masih tetap suka di sekolah ini."
"Sebenarnya,
Elizabeta Hédérvary," kata bosku lagi. Aku mengenyit. Sepertinya orang
ini sangat suka memanggil orang dengan nama lengkap, "Kau sudah
kudaftarkan ke College Gakuen.
Bersekolah di sana, dengan negara-negara
lainnya."
Aku terdiam. Mata hijauku membelalak lagi. Tunggu,
bersekolah di College Gakuen? Bosku pasti sudah gila! Aku tak mengenal
siapapun di Gakuen satu itu. Kebanyakan dari mereka adalah personifikasi
Afrika dan Amerika Selatan, juga Oceania. Lagipula, terlepas dari
masalah utama yang kuhadapi ini, aku merasa sangat betah bersekolah di
Heta Gakuen. Rekan-rekanku –sesama fujoshi tentunya- sangat baik padaku.
Dua sahabat masa kecilku juga bersekolah disana. Untuk apa aku pindah
hanya karena masalah sepele begini?
"Bos, tidakkah itu terlalu berlebihan?" Aku mencoba bermanis-manis, "Hanya masalah kecil seperti ini, aku tidak perlu…"
"Ini bukan permintaan," suara bosku mulai terdengar tegas, "Bukan, ini perintah."
Terasa seakan-akan Natalya menyiramkan air dari Siberia.
"HAH?" tak sadar, aku menggebrak meja, "Apa-apaan itu? Tidak! Aku menolak! Aku tidak mau!"
"Perintah, kubilang." kata bosku keras kepala.
"Atas dasar apa aku dipindahsekolahkan ke College Gakuen?" kataku menantang, "Aku tidak mau! Aku ingin tetap disini! Aku…"
"Kau terlihat sangat sengsara karena harus bersekolah di Heta Gakuen." kata bosku dengan nada menjelaskan.
"Aku
akan lebih sengsara lagi kalau harus berada jauh dari orang yang
kusayangi!" teriakku,
"Untuk terakhir kalinya kutegaskan, aku tak mau
pindah sekolah! Titik!"
Aku langsung menggebrak meja dan berbalik. Berjalan dengan langkah penuh kemarahan menuju pintu kayu tua itu.
"Elizabeta!"
Tak
kuhiraukan panggilan dari bosku. Satu-satunya tujuanku saat ini adalah
kamarku. Tempat dimana aku bisa menyendiri dan menangis sekuat tenagaku.
"Pindah?"
Bella
hampir saja menyemburkan jusnya begitu aku memberitahunya akan kejadian
kemarin. Lilli langsung menutup mulutnya dengan kedua tangannya. Dari
seluruh rekanku, memang Lilli yang paling dekat denganku.
"K… kau tidak serius, kan?" tanya Lilli terbata-bata. Aku hanya tersenyum sedih sambil menggeleng.
"Aku
serius," kataku dengan nada pahit, "Bosku semakin keras kepala rupanya.
Beliau bahkan sekarang sedang mengunjungi College Gakuen. Entah
bagaimana nanti kalau aku benar-benar harus sekolah di sana."
"Sahabat
lamaku, Wyna, bersekolah disana, Dia anak yang baik, biarpun, agak
cuek," Sey menenggak minumannya, "Tapi tetap saja, Eliza, akan berbeda
lagi rasanya kalau kau harus meninggalkan kami."
"Tak ada cara
lain agar kau tetap bisa berada di sini?" Nesia memandangku dengan
tatapan sedih. Aku hanya menghela napas dan menggeleng pelan.
"Entahlah."
Tanpa ada yang menyadari, sepasang mata violet memperhatikan kami dari balik pepohonan.
Aku
pulang dengan lesu. Ya, aku sudah menegaskan untuk tidak pulang ke
kamarku lagi, tetapi pulang ke rumahku. Aku akan menemui bosku, berusaha
sebisa mungkin membujuk orang tua itu agar mau mengenyahkan ide buruk
tentang pindah sekolah itu dari dalam otaknya.
Kreeet.
Pagar
berwarna merah-putih-hijau itu berderit ketika petugas keamanan
membukakannya untukku. Setelah melempar senyum, aku berjalan dengan
lebih rileks menuju gedung utama, gedung besar bercat putih, tempat
tinggalku selain kamar nomor 56 Heta Gakuen.
"Eh?"
Aku agak
kaget melihat sebuah rompi berwarna ungu tersampir di kaitan topi. Milik
siapa ini? Perasaan bosku menyukai warna hijau, bukan ungu.
Lebih
jauh lagi, aku bertambah keheranan dengan adanya tas berwarna hitam di
sofa utama. Tas milik siapa ini? Tas milik bosku memang berwarna hitam,
tetapi modelnya tidak seperti ini. Dan lagi, lambing huruf A itu…
Aku
menampar diriku sendiri. Sadar, Elizabeta! Mana mungkin 'dia'
bertandang ke rumahmu, kan?
Untuk apa? Mungkin hanya utusan dari negara
Australia.
Ya, kan?
Banyak negara berawalan huruf A di dunia ini. Bukan hanya dia saja.
Mana mungkin dia kesini?
Kan?
Mau
tak mau aku harus mengakui kalau dugaan ngaco yang kulontarkan barusan
di atas itu salah besar. Setelah mendengarkan suara perdebatan di dalam
ruang kerja bosku.
"Apalagi setelah ini?"
Aku mendekati
ruang kerja yang cukup luas itu. Pintunya tertutup rapat. Dengan
hati-hati, tanpa ingin menimbulkan suara dan ketahuan mengintip, aku
membuka pintu itu perlahan.
Pintu itu tak berderit, syukurlah.
"… jadi kumohon sekali lagi, Tuan…"
"Tidak. Saya tetap ingin mendidiknya di College."
Deg.
Itu suaranya. Tak bisa dipungkiri lagi. Itu suara sang personifikasi Austria. Sedang apa dia?
"… Tuan, kumohon…"
"Kenapa kau sangat memaksa?"
"Karena aku mencintainya…"
.
.
.
.
.
.
GRADAK
Wajahku
yang memerah bertemu dengan lantai batu yang dilapisi karpet sewarna.
Dua laki-laki yang tadinya duduk berhadapan kini dengan kaget menatapku
yang terjatuh dari pintu kayu tua.
Oh, lihatlah apa yang telah pintu itu
lakukan. Tak mampu menopang berat badanku yang ringan, dan membiarkanku
jatuh tanpa alas. Nasibku memang melas.
"Eh, engg…"
Aku hanya bisa tersenyum salah tingkah sambil mengelus bagian belakang kepala.
"Aku… well, kurasa pembicaraan kalian penting, ya?"
Tak ada jawaban.
"Em… yah… jadi… apa kutinggal saja?"
Dan belum lagi kakiku yang agak sakit itu melangkah, sepasang tangan pucat itu merengkuhku dari belakang.
"Roderi…"
"Tuan,"
Roderich berkata dengan penuh keyakinan, tidak mempedulikan aku yang
agak meronta di pelukannya, "Kuyakinkan anda, aku sangat mencintainya.
Dan aku akan melindunginya. Tolong biarkan ia tetap bersekolah di Heta
Gakuen. Kumohon."
Hening.
Detik demi detik berlalu. Semenit kemudian, bosku menghela napas penjang.
"Baiklah,"
mata hijaunya menatap kami berdua, "Kalau kalian memang
menginginkannya, aku hargai itu. Kuhargai kasih sayang di antara kalian.
Tapi tetap saja…"
"Oh!" Roderich berdecak sebal, "Apalagi memangnya? Apa anda masih butuh pembuktian?"
Dan tanpa peringatan, tanpa aba-aba, Roderich memelukku.
"Yah,"
tampaknya bosku juga memerah karena kelakuan kedua
remaja-tapi-personifikasi-negara di depannya, "Apa boleh buat, toh
dipaksa seperti apapun kalian juga akan menolak." Orang tua itu
menggelengkan kepalanya, "Baiklah. Terserah kalian saja. Elizabeta, kau
tak akan kupindah sekolahkan."
Aku bersorak mendengarnya. Roderich menyeringai.
"Kalau
begitu, aku akan pergi dulu, ada masalah kecil di luar." si bos
merapkan dasinya dan berjalan melewati pintu. Samar-samar aku bisa
melihatnya menggelengkan kepala sambil bergumam, 'Dasar anak muda jaman
sekarang…'
"Roderich!"
Aku menjerit senang dan langsung memeluk pemuda Austria itu dengan kuat. Ia hanya tertawa kecil dan balas memeluk.
"Terima kasih," aku berbisik, "Terima kasih banyak."
"Apapun untukmu, Eli," ia balas berbisik, "
Ich liebe dich."
"
Ich liebe dich auch, Roderich."
-OMAKE-
Roderich
: "Fujodanshi Club, terima kasih banyak atas kerjasama kalian.
Sandiwara kalian bagus sekali. Terutama kalian berdua, Lilli dan Bella."
Gilbert : "Hei, tak ada ucapan terima kasih untukku?"
Roderich : "Apa? Karena kau, nyaris saja rencana kami gagal! Kau terlalu berlebihan!"
Kiku : "Ano… Roderihi-kun, bagaimana dengan bos-nya Hungarii-san?"
Roderich : "Ah, iya. Aku harus berterima kasih padanya atas ketersediannya bergabung dengan kita."
Bella : "Dalam rangka menembak Eliza, kan? Dasar orang Austria, maunya yang mewah-mewah…"
-Fin-