Powered By Blogger

Selasa, 28 Februari 2012

Wee Willie Winkie - A Random Poetry by Me

Lagi nge-galau begini, saya malah iseng nulis puisi dari doujin USxUK berjudul 'Nursery Rhimes'.

Ini dia sampul doujinnya~ (NB : Ini doujin ratingnya 17+, dan untunglah pake bahasa Jepang, sehingga saya gak ngerti apa-apa :D)
Wokelah. Cekidot.





Untuk puisinya, Rheyna ggak yakin tentang apa. Tapi biarlah, lagian rima-nya asik, kok. :D
Okay, here we go!

Wee Willie Winkie

Wee Willie Winkie runs through the town,
Up stairs and down stairs in his night-gown,
Tapping at the window, crying at the lock,
"Are the children in their bed, for it's now ten o'clock?"
    "Hey Willie Winkie, are you coming in?
   The cat is singing purring sounds to the sleeping hen,
   The dog's spread out on the door, and doesn't give a cheep,
   But here's a wakeful little boy who will not fall asleep!"
 Anything but sleep, you rogue! glowering like the moon,
Rattling in an iron jug with an iron spoon,
Rumbling, tumbling round about, crowing like a cock,
Shrieking like I don't know what, waking sleeping folk.
   "Hey, Willie Winkie - the child's in a creel!
   Wriggling from everyone's kneel like an eel,
   Tugging at the cat's ear, and confusing all her thrums,
   Hey, Willie Winkie - see, there he comes!"
Weary is the mother who has a dusty child,
A small short little child, who can't run on his own,
Who always has a battle with sleep before he'll close an eye
But a kiss from his rosy lips gives strength anew to me.
  


Music Class


Elizabeta Hédérvary, namaku. Seorang gadis berdarah Hungaria. Seorang fujoshi andal yang pandai beladiri menggunakan teflon –yeah, aku tahu kalau teflon itu bukan senjata yang umum-. Seorang perempuan yang sangat not-woman-mannered, bahkan dulu aku mengira kalau aku ini seorang laki-laki. Haha, konyol bukan? Tentu tidak. Aku ini tomboy, sangat tomboy. Kalau saja bukan karena rambut cokelat panjang bergelombang dan bunga yang kusematkan di rambutku ini, bisa saja orang mengiraku laki-laki. Oh, tentu saja. Aku tahu hanya orang kelewat bodoh yang akan mengiraku sebagai seorang laki-laki meskipun atribut yang kusebutkan tadi tak kukenakan. Untungnya, bergabung dengan klub tata boga membuatku merasa lebih… cewek. Lagipula, apa gunanya teflon bila tak dimanfaatkan di atas kompor?

Banyak orang yang mengatakan aku cantik –kuakui, itu terasa lebih baik daripada orang mengatakan aku tomboy-. Banyak laki-laki yang mengerling setiap aku lewat. Namun tak ada yang pernah benar-benar menarik perhatianku sepenuhnya –itu dulu, setidaknya-. Aku sudah bilang kalau aku fujoshi, kan? Tapi bukan berarti itu membuatku tidak menyukai laki-laki. Aku bukan seorang yang terkontaminasi 'yuri'. Aku tertarik pada laki-laki. Dan kini, aku tertarik pada seseorang.

Tertarik pada seseorang. Kini aku menyukai seseorang. Ia –orang yang kusukai- orang yang hebat, tampan, dan berwibawa. Aku menyukainya. Sangat menyukainya –sudah berapa kali aku mengatakan kata 'suka' dan 'tertarik'?-. Tapi aku senang karena aku mengatakannya berulang kali. Orang itu, orang yang sudah membuat jantungku berdetak sangat cepat saat pertama kali melihatnya, bahkan hingga saat ini, saat dimana aku sedang menjalani proses pendekatan padanya.
Ah, ingin rasanya aku punya kisah romansa seindah Viet. Berdua dengan Thai-nya tercinta. Tak ada yang memisahkan. Sungguh serasi, sungguh romantis. Atau seperti Nesia. Bagaimana rasanya diperebutkan oleh dua orang laki-laki keren nan tampan? Tanyakan pada gadis Melayu itu. Atau mungkin seperti Natalya. Kau mungkin bertanya bagaimana bisa aku iri pada Natalya. Bukan, bukan karena usaha kerasnya dalam 'meraih' sang kakak. Bukan. Tapi karena ada Toris. Toris Laurinaitis. Pemuda Lithuania yang baik hati dan ramah itu selalu menerima Natalya apa adanya. Ia juga sering menghibur Natalya saat ia ditolak oleh Ivan. Apa yang membuatku heran adalah kenapa Natalya tidak meng-imprint –oh maaf, Natalya kan bukan werewolf- maksudku, tidak menyukai Toris.

Tapi orang yang kusukai ini berbeda dengan mereka. Dingin, namun ramah. Berwibawa namun tampan. Seorang murid kelas lain yang seangkatan denganku. Pintar dalam hal akademik maupun non-akademik. Mahir memainkan piano. Mahir berpidato. Mahir membuat orang sepertiku tertarik bahkan dalam pandangan pertama. Mahir…

Sret.

Mahir membuatku langsung terpana tak berdaya bahkan hanya dengan berada seruangan yang sama dengannya.

Ya, orang yang barusan lewat itu. Yang membuatku terdiam sejenak dengan mulut terbuka itu, yang bisa-bisanya membuat jantungku sakit saking cepatnya bergerak. Orang itu. Dengan mariazell-nya yang khas, rambut auburn indah, dan mata violet yang sungguh membuatku betah untuk menatapnya.

Ya, orang itu.

Roderich Edelstein


Hetalia © Hidekaz Himaruya
Music Class © Rheyna Rosevelt
WARNING!
Typo(s), OOC, OC, AU, klise (maybe. it's up to you), Gilbert tortured (?), hints of yaoi. I've warn you.
Don't like? Don't read!
We need review, not flame.


"Baiklah," Roderich Edelstein, sang ketua klub musik berdeham di depan. Matanya menjelajahi seluruh ruangan, memastikan semuanya hadir kecuali yang sudah meminta ijin dan ada keterangan. Ia mengernyit ke arah pria albino bermata sewarna rubi yang tengah duduk setengah tertidur sambil malas-malasan.

Roderich berdeham sekali lagi, "Gilbert Beildschmidt, bisakah kau bersikap sopan di dalam ruangan?"

Aku mendengus sambil menatap pria albino tadi yang duduk persis di sebelahku, "Gil, Gilbert! Bangun, hoi! Kau diperhatikan ketua, tahu!"

Oh, aku belum bilang ya kalau aku juga mengikuti klub musik sebagai ajang pendekatanku pada pemuda ini?

Orang yang dipanggil Gilbert itu hanya tertawa kecil, "Biar saja, Eli. Memangnya, apa masalahku?"

Wajahku merona karena ia memanggilku dengan nama kecilku –ya, Gilbert Beildschmidt dan Roderich Edelstein adalah teman masa kecilku-. Aku berbisik sekali lagi, menyadari si pemuda berdarah Austria yang ada di depan ruangan sudah mulai menatap Gilbert dengan pandangan kubunuh-kau-dengan-nada-Chopin-ku, "Gil, bangun. Ketua bisa marah…"

"Paling-paling marahnya dengan bikin tuli orang pakai Chopin. Dasar ketua nggak awesome."

Oke, itu usaha terakhirku. Roderich –yang kupanggil ketua- sudah memerah wajahnya, pertanda menahan luapan kemarahan. Aku harus segera bertindak. Kalau Roderich sampai mengamuk, hancur sudah hari Senin yang membahagiakan ini. Mau tak mau, frypan-ku harus turun tangan.

BUK.

"Terima kasih, Hédérvary," Roderich tersenyum manis padaku (hanya padaku, kuingatkan kalian!).

Aku balas tersenyum sambil tangan kananku mengembalikan frypan-ku lagi ke dalam tas. Gilbert? Pingsan di ujung ruangan. Peduli amat apakah dia masih bernapas atau tidak.

"Nah," kata Roderich lagi, "Materi hari ini, kita tidak akan belajar memainkan Chopin. ("Tentu saja! Kita sudah mencobanya sepuluh kali!" teriak anggota klub lainnya) Tapi kita akan membuat lagu kreasi kita sendiri. Dalam waktu satu setengah jam, kuharap kalian bisa menyelesaikannya. Kita anggap Beildschmidt absen. Baik, kita mulai dari sekarang."

Dan sedetik kemudian, ruangan dipenuhi dengan nada patah-patah dari belasan piano yang berjejer dengan rapi.

"Hédérvary, kau sudah selesai membuat not solmisasi-nya?"

Aku menengadahkan kepalaku dari selembar kertas yang sedari tadi menjadi pusat perhatianku. Mata hijauku bertemu dengan mata violetnya. Membuat jantungku berdegup lagi.

"I-iya, Edelstein-san…"

Dan aku berharap bisa menjadi kekasihnya, padahal aku masih memanggilnya dengan nama belakangnya?

"Bagus. Bisa kulihat?"

Dengan malu-malu aku menyerahkan selembar kertas bercoretkan not-not balok dan nada solmisasi. Roderich menatapya cukup lama, lalu tersenyum.

"Karya yang indah, Hédérvary. Indah, melodis. Akan kau namai apa nada buatanmu ini?"

Aku terdiam sebentar, berusaha memanggil tuan ide. Beberapa saat kemudian, dengan sebuah kata yang sudah terpatri jelas di pikiranku, aku menjawab pertanyaan Roderich dengan semangat.

"I love before V!"

Alis Roderich yang masih normal –dalam artian tidak setebal milik Arthur- terangkat.

"'I love before V?' Maksudnya?" tanyanya sangsi.

 "Ya 'I love before V'! Artinya rahasia!" Aku terkikik melihat raut wajahnya yang kebingungan.

"Baiklah…" Roderich merespon, "kepada siapa kau persembahkan lagu ini?"

"Kenapa kau menanyakan itu?" aku balas bertanya secara refleks.

Roderich mengangkat bahunya, "Hanya penasaran. Sepertinya lagumu ini untuk seseorang yang kau sayangi…"

"Untuk seseorang," aku menyeringai kecil. Ia mengangkat alisnya lagi. "Memang benar, untuk seseorang."

"Siapa?" tanyanya, berusaha mencari tahu.

"Privat." kataku pendek.

"Sebegitu pentingnyakah orang itu bagimu, sehingga kau mempersembahkan karyamu ini padanya?" tanya Roderich lagi. Alisnya sedikit mengenyit, menandakan ia tidak terlalu suka dengan inti pembicaraan kami.

Aku terdiam sebentar. Lalu senyum samar muncul di wajahku.

"Sangat. Aku bahkan tak bisa membayangkan bagaimana hidupku tanpanya."

Uh, oh. Aku tak tak tahu apaah aku telah mengatakan hal yang salah. Alis Roderich menyatu tanda ia tak suka.

"Begitu?"

Dan aku terkejut mendapati nada sinis dalam ucapannya. Aku menatapnya dengan heran. Ia bals menatapku dengan pandangan marah.

"Roderich, kenapa?"

Aku memanggilnya dengan namanya. Ia hanya mendengus, lalu mengalihkan perhatiannya sambil berlalu.

"Tidak. Tidak ada apa-apa."

Ia berjalan mendekati Ludwig, adik Gilbert, yang juga sedang mengaransemen sebuah lagu. Mereka berbincang sejenak. Aku hanya bisa terdiam, mencerna maksud dari perkataan sang maniak Chopin itu.

 "Hei," Sey membuka pembicaraan begitu aku dan anggota "Fujodanshi Club" lainnya berkumpul di kafetaria, "Apa ada yang tahu Roderich kenapa? Ia jadi pemarah sekali seharian ini."
Aku menyetop sesendok parfait yang hendak masuk ke mulutku. Yang lainnya saling manatap kebingungan.

"Aku baru tahu," Bella menyuapkan sesendok kue cokelat ke dalam mulutnya, "Yang lain ada yang tahu?"

"Lagi dapet kali, makanya sensi gitu." jawab Natalya cuek, dan sukses mendapatkan getokan dari kakaknya, Yekaterina.

"Nat, Roderich itu cowok," Mei-Mei tertawa garing. Yang lainnya sweatdrop.

"Menurutmu sendiri bagaimana, Eliza?" tanya Yekaterina sambil tersenyum miring ke arahku. Aku menatapnya dengan pandangan bertanya, biarpun rona merah perlahan muncul di wajahku.

"Apa?"

"Jangan bercanda," kata Viet pelan, "Kami tahu kalau kau menyukainya, jadinya kami tak tega mengambil foto-foto PrusAus, GerAus, atau AusSwiss untuk dokumentasi, biarpun itu memang benar adanya."

"Viet," tegur Nesia pelan.

"Lho, itu memang benar, kok." jawab Viet cuek. Ia kembali memakan rotinya.

"Eh, aku tak tahu apapun," kataku sedikit sangsi, lalu melanjutkan makan. Sementara Lilli yang
sedari tadi diam mulai angkat bicara.

"Roderich memang dari tadi marah-marah terus," kata adik Vash itu, suaranya cukup pelan hingga yang lainnya harus mencondongkan tubuhnya untuk bisa mendengarkan, "Waktu pertemuan klub musik tadi, dia tampak marah. Aku juga bingung kenapa."

Semuanya manggut-manggut. Aku tertegun. Memang, murid perempuan yang ikut klub musik ada tiga orang. Aku, Lilli, dan Bella. Cukup hebat juga si gadis Liechtenstein bisa mengingat hal tersebut. Aku saja sudah nyaris lupa.

"Ah!" Bella sedikit memekik, "Aku ingat! Saat membuat lagu tadi, ia sempat mendekati Ludwig dan ngobrol dengannya, kan? Aku ada di depan Ludwig dan tak sengaja mendengarkan pembicaraan mereka!"

Semuanya kini berganti menatap si maniak cokelat.

"Mereka membicarakan apa?" tanya Kiku tertarik.

"Kekasih."

Hening.
.
.
.

"Hah?" Baru setelah pulih dari shock, semua berseru serempak, "Kekasih?"

"Iya," Bella dengan tenang mulai menyantap es krim cokelat, "Pertamanya mereka membicarakan Feliciano, lalu entah kenapa berlanjut dengan Ludwig menanyakan tentang Roderich sendiri."

"Tentang Roderich sendiri?" Nesia mengernyit.

"Dia menanyakan tentang kekasih Ludwig sendiri, mungkin." tebak Sey.

Bella menyeringai, "Memang begitu."

Hening lagi.
.
.
.

"Haaah?"

Aku ternganga lebar, antara terkejut dan tidak percaya. Kulihat semuanya juga bereaksi sama, meskipun tidak separah diriku. Bella malah mengaduk es krim denga santainya, seolah kalimat yang baru saja ia ucapkan tadi tidak menimbulkan euforia besar seperti ini.

"A-apa jawabannya?" tanyaku tergagap. Bella memandangku sebentar dan tersenyum.

"Roderich jawab, kalau ia sudah menemukan seseorang yang ia sukai." Bella memandang sekeliling,

"Aku tak tahu siapa yang dia maksud, kalau kau mau bertanya tentang itu, Eliza."

Aku terdiam. Tanganku mengepal, agak basah karena keringat. Mataku tiba-tiba basah. Teringat akan sesuatu.

"Ah," Bella melanjutkan, "Bukannya mau memicu kecemburuanmu atau apa, Eliza, tapi aku hanya ingin kau tahu saja."

Semuanya terdiam, giliran menatapku.

"Katakan." aku berkata dengan suara serak. Khawatir. Ya, perasaanku kini khawatir. Khawatir bila ternyata orang yang kusukai ternyata menyukai orang lain. Cemas. Khawatir. Dan cemburu. Ada rasa cemburu perlahan muncul.

"Setelah mengatakan hal itu, Roderich mendatangi Gilbert dan membantunya menuju UKS."

Deg.

Dan detik berikutnya, Natalya menyangga tubuhku yang mendadak terasa sangat ringan.

"…liza…"

"Eliza…"

Aku membuka mataku begitu mendengar suara yang sangat kukenal ini. Suara ini, suara merdu ini.

Perlahan, setelah menyesuaikan mata dengan cahaya yang terlampau terang, aku menelengkan kepalaku dan tersenyum samar.

"Roderich,"

Roderich tersenyum. Ia mengelus kepalaku, "Dasar kau ini. Ngapain pakai acara pingsan-pingsanan segala, hah? Aku jadi khawatir, tahu! Untung saja Gilbert sudah pulih…"

Mendengar kalimat terakhir Roderich, mataku kembali melebar. Aku bertanya degan suara serak tertahan. Oh, Tuhan. Apakah benar wanita itu paling lemah dengan yang namanya cinta dan kasih sayang?

"Kau... hubungan apa yang ada antara kau dan Gilbert?"

Hening lagi. Aku mulai bosan. Sudah tiga kali keheningan menerpaku.

"Kami hanya sebatas sahabat…"

Aku mulai merasa kesal dengan air mata yang merebak. Apa-apaan ini? Elizabeta Hédérvary, kau ini perempuan yang tegar! Kau ini perempuan yang kuat! Masa' hanya dengan kejadian seperti ini saja kau menangis?

"Sebatas sahabat?"

Rupanya Roderich menyadari nada tersinggung dalam suaraku. Ia mengangkat alisnya.

"Apa maksudmu dengan 'sebatas sahabat', Eli?"

"Siapa 'orang yang kusukai' itu, Roderich?"

Hening lagi. Ingin sekali aku menampar keheningan itu dengan frypan-ku.

"Ahahaha, maksudmu apa?" tanya Roderich sambil menggaruk bagian kepalanya yang –tentu saja- tidak gatal.

"Aku tahu percakapanmu dengan Ludwig saat pertemuan klub musik tadi pagi," kataku sigkat.

Senyum Roderich perlahan memudar dan tangannya bergerak turun, "Kau bilang kau menyukai seseorang. Siapa dia?"

Bersamaan dengan mulutku yang menutup, pintu UKS terbuka dan menampilkan sosok pemuda berambut perak masuk dengan sangat 'awesome'-nya.

"Yo! Roddy, aku yang awesome ini datang! Eh, Eli sudah bangun?"

Tak ada yang merespon. Aku tercekat. Gilbert memanggil Roderich dengan panggilan 'Roddy'?

Jelas itu adalah panggilan sayang. Aku sendiri tidak pernah memakai panggilan seperti itu.

Bagaimana bisa Gilbert…

Roderich menghela napas dan menatap Gilbert, "Bisakah kau diam, Obaka-san? Eli baru bangun dan kau malah mengganggunya!"

Aku semakin terdiam. 'Obaka-san'? Apalagi itu? Mereka berdua sudah memanggil satu sama lain dengan panggilan seperti itu. Mengingatkanku dengan 'suami istri bahagia', Tino dan Berwald.
Hingga tiba-tiba, sebuah ingatan muncul dalam pikiranku.

"Kami tahu kalau kau menyukainya, jadinya kami tak tega mengambil foto-foto PrusAus, GerAus, atau AusSwiss untuk dokumentasi, biarpun itu memang benar adanya."

"Viet,"

"Lho, itu memang benar, kok."

Aku langsung bangkit. Rasa pusing langsung hilang. Roderich sempat menahanku tadi, namun aku balas menatapnya dengan mata merah.

"Eli?" Roderich terkaget, "Kau menangis? Ada apa?"

Gilbert menghampiriku dan ikut menahanku, "Berbaring saja, nona tak awesome. Kau sudah membuat Roddy khawatir setengah mati tahu. Untung saja aku yang awesome ini datang untuk menenangkannya…"

BUK

Gilbert terkapar lagi, untuk kedua kalinya dalam sehari, dengan benjolan sebesar bola bekel di dahinya. Aku mengembalikan frypan mautku ke dalam tas, dan berlari pergi. Sudah pukul dua.

Seharusnya bel pulang sudah berdentang.

Tak menghiraukan panggilan dari Roderich di belakangku, aku terus berlari. Tak menghiraukan tatapan heran murid-murid lain. Kini tujuanku hanya satu.

Rumah.

Ya, rumah. Bukan dalam artian asrama yang kutinggali bersam Bella dan Lilli. Tapi rumah.

Rumahku.

Roderich hanya bisa tersenyum kecut. Ia melirik Gilbert yang terkapar dengan keadaan setengah sadar, "Lihat apa yang sudah kau lakukan, Obaka-san. Kau terlalu jauh dari peranmu, tahu."

Gilbert hanya tersenyum, "Aku kan juga menyukainya. Kita ini rival. Ingat, Roddy?"

 Aku duduk terdiam di depan bosku, yang menatapku dengan khawatir. Beberapa menit lalu, beliau
hanya bisa menghiburku dengan mengelus-elus pundakku sementara aku menangis sesenggukan.

"Elizabeta Hédérvary," kata bosku dengan lembut, "Aku tahu kau ini wanita. Aku tahu kau ini sang personifikasi negara kita, Hungaria. Tapi kenapa hanya gara-gara pria, kau lantas menangis seperti gadis muda?"

Nah, lho. Bahkan bosku malah berlatih mengucapkan kalimat demi kalimat dengan berima.

Aku menghapus air mata yang sudah menggenang di pelupuk mataku, "Maaf, bos."

"Apa kau sudah bosan dengan sekolahmu?"

Mata hijauku kini menatap sosok pria tua yang ada di depanku. Ia menatapku dengan sedikit cemas.

Aku buru-buru menggeleng, "Tidak aku masih tetap suka di sekolah ini."

"Sebenarnya, Elizabeta Hédérvary," kata bosku lagi. Aku mengenyit. Sepertinya orang ini sangat suka memanggil orang dengan nama lengkap, "Kau sudah kudaftarkan ke College Gakuen.
Bersekolah di sana, dengan negara-negara lainnya."

Aku terdiam. Mata hijauku membelalak lagi. Tunggu, bersekolah di College Gakuen? Bosku pasti sudah gila! Aku tak mengenal siapapun di Gakuen satu itu. Kebanyakan dari mereka adalah personifikasi Afrika dan Amerika Selatan, juga Oceania. Lagipula, terlepas dari masalah utama yang kuhadapi ini, aku merasa sangat betah bersekolah di Heta Gakuen. Rekan-rekanku –sesama fujoshi tentunya- sangat baik padaku. Dua sahabat masa kecilku juga bersekolah disana. Untuk apa aku pindah hanya karena masalah sepele begini?

"Bos, tidakkah itu terlalu berlebihan?" Aku mencoba bermanis-manis, "Hanya masalah kecil seperti ini, aku tidak perlu…"

"Ini bukan permintaan," suara bosku mulai terdengar tegas, "Bukan, ini perintah."

Terasa seakan-akan Natalya menyiramkan air dari Siberia.

"HAH?" tak sadar, aku menggebrak meja, "Apa-apaan itu? Tidak! Aku menolak! Aku tidak mau!"

"Perintah, kubilang." kata bosku keras kepala.

"Atas dasar apa aku dipindahsekolahkan ke College Gakuen?" kataku menantang, "Aku tidak mau! Aku ingin tetap disini! Aku…"

"Kau terlihat sangat sengsara karena harus bersekolah di Heta Gakuen." kata bosku dengan nada menjelaskan.

"Aku akan lebih sengsara lagi kalau harus berada jauh dari orang yang kusayangi!" teriakku,

"Untuk terakhir kalinya kutegaskan, aku tak mau pindah sekolah! Titik!"

Aku langsung menggebrak meja dan berbalik. Berjalan dengan langkah penuh kemarahan menuju pintu kayu tua itu.

"Elizabeta!"

Tak kuhiraukan panggilan dari bosku. Satu-satunya tujuanku saat ini adalah kamarku. Tempat dimana aku bisa menyendiri dan menangis sekuat tenagaku.

 "Pindah?"

Bella hampir saja menyemburkan jusnya begitu aku memberitahunya akan kejadian kemarin. Lilli langsung menutup mulutnya dengan kedua tangannya. Dari seluruh rekanku, memang Lilli yang paling dekat denganku.

"K… kau tidak serius, kan?" tanya Lilli terbata-bata. Aku hanya tersenyum sedih sambil menggeleng.

"Aku serius," kataku dengan nada pahit, "Bosku semakin keras kepala rupanya. Beliau bahkan sekarang sedang mengunjungi College Gakuen. Entah bagaimana nanti kalau aku benar-benar harus sekolah di sana."

"Sahabat lamaku, Wyna, bersekolah disana, Dia anak yang baik, biarpun, agak cuek," Sey menenggak minumannya, "Tapi tetap saja, Eliza, akan berbeda lagi rasanya kalau kau harus meninggalkan kami."

"Tak ada cara lain agar kau tetap bisa berada di sini?" Nesia memandangku dengan tatapan sedih. Aku hanya menghela napas dan menggeleng pelan.

"Entahlah."

Tanpa ada yang menyadari, sepasang mata violet memperhatikan kami dari balik pepohonan.

 Aku pulang dengan lesu. Ya, aku sudah menegaskan untuk tidak pulang ke kamarku lagi, tetapi pulang ke rumahku. Aku akan menemui bosku, berusaha sebisa mungkin membujuk orang tua itu agar mau mengenyahkan ide buruk tentang pindah sekolah itu dari dalam otaknya.

Kreeet.

Pagar berwarna merah-putih-hijau itu berderit ketika petugas keamanan membukakannya untukku. Setelah melempar senyum, aku berjalan dengan lebih rileks menuju gedung utama, gedung besar bercat putih, tempat tinggalku selain kamar nomor 56 Heta Gakuen.

"Eh?"

Aku agak kaget melihat sebuah rompi berwarna ungu tersampir di kaitan topi. Milik siapa ini? Perasaan bosku menyukai warna hijau, bukan ungu.

Lebih jauh lagi, aku bertambah keheranan dengan adanya tas berwarna hitam di sofa utama. Tas milik siapa ini? Tas milik bosku memang berwarna hitam, tetapi modelnya tidak seperti ini. Dan lagi, lambing huruf A itu…

Aku menampar diriku sendiri. Sadar, Elizabeta! Mana mungkin 'dia' bertandang ke rumahmu, kan?
Untuk apa? Mungkin hanya utusan dari negara Australia.

Ya, kan?

Banyak negara berawalan huruf A di dunia ini. Bukan hanya dia saja.

Mana mungkin dia kesini?

Kan?

Mau tak mau aku harus mengakui kalau dugaan ngaco yang kulontarkan barusan di atas itu salah besar. Setelah mendengarkan suara perdebatan di dalam ruang kerja bosku.

"Apalagi setelah ini?"

Aku mendekati ruang kerja yang cukup luas itu. Pintunya tertutup rapat. Dengan hati-hati, tanpa ingin menimbulkan suara dan ketahuan mengintip, aku membuka pintu itu perlahan.

Pintu itu tak berderit, syukurlah.

"… jadi kumohon sekali lagi, Tuan…"

"Tidak. Saya tetap ingin mendidiknya di College."

Deg.

Itu suaranya. Tak bisa dipungkiri lagi. Itu suara sang personifikasi Austria. Sedang apa dia?

"… Tuan, kumohon…"

"Kenapa kau sangat memaksa?"

"Karena aku mencintainya…"
.
.
.
.
.
.

GRADAK

Wajahku yang memerah bertemu dengan lantai batu yang dilapisi karpet sewarna. Dua laki-laki yang tadinya duduk berhadapan kini dengan kaget menatapku yang terjatuh dari pintu kayu tua.
Oh, lihatlah apa yang telah pintu itu lakukan. Tak mampu menopang berat badanku yang ringan, dan membiarkanku jatuh tanpa alas. Nasibku memang melas.

"Eh, engg…"

Aku hanya bisa tersenyum salah tingkah sambil mengelus bagian belakang kepala.

"Aku… well, kurasa pembicaraan kalian penting, ya?"

Tak ada jawaban.

"Em… yah… jadi… apa kutinggal saja?"

Dan belum lagi kakiku yang agak sakit itu melangkah, sepasang tangan pucat itu merengkuhku dari belakang.

"Roderi…"

"Tuan," Roderich berkata dengan penuh keyakinan, tidak mempedulikan aku yang agak meronta di pelukannya, "Kuyakinkan anda, aku sangat mencintainya. Dan aku akan melindunginya. Tolong biarkan ia tetap bersekolah di Heta Gakuen. Kumohon."

Hening.

Detik demi detik berlalu. Semenit kemudian, bosku menghela napas penjang.

"Baiklah," mata hijaunya menatap kami berdua, "Kalau kalian memang menginginkannya, aku hargai itu. Kuhargai kasih sayang di antara kalian. Tapi tetap saja…"

"Oh!" Roderich berdecak sebal, "Apalagi memangnya? Apa anda masih butuh pembuktian?"

Dan tanpa peringatan, tanpa aba-aba, Roderich memelukku.

"Yah," tampaknya bosku juga memerah karena kelakuan kedua remaja-tapi-personifikasi-negara di depannya, "Apa boleh buat, toh dipaksa seperti apapun kalian juga akan menolak." Orang tua itu menggelengkan kepalanya, "Baiklah. Terserah kalian saja. Elizabeta, kau tak akan kupindah sekolahkan."

Aku bersorak mendengarnya. Roderich menyeringai.

"Kalau begitu, aku akan pergi dulu, ada masalah kecil di luar." si bos merapkan dasinya dan berjalan melewati pintu. Samar-samar aku bisa melihatnya menggelengkan kepala sambil bergumam, 'Dasar anak muda jaman sekarang…'

"Roderich!"

Aku menjerit senang dan langsung memeluk pemuda Austria itu dengan kuat. Ia hanya tertawa kecil dan balas memeluk.

"Terima kasih," aku berbisik, "Terima kasih banyak."

"Apapun untukmu, Eli," ia balas berbisik, "Ich liebe dich."

"Ich liebe dich auch, Roderich."



-OMAKE-
Roderich : "Fujodanshi Club, terima kasih banyak atas kerjasama kalian. Sandiwara kalian bagus sekali. Terutama kalian berdua, Lilli dan Bella."

Gilbert : "Hei, tak ada ucapan terima kasih untukku?"

Roderich : "Apa? Karena kau, nyaris saja rencana kami gagal! Kau terlalu berlebihan!"

Kiku : "Ano… Roderihi-kun, bagaimana dengan bos-nya Hungarii-san?"

Roderich : "Ah, iya. Aku harus berterima kasih padanya atas ketersediannya bergabung dengan kita."

Bella : "Dalam rangka menembak Eliza, kan? Dasar orang Austria, maunya yang mewah-mewah…"

-Fin-

Bias



























Hai semua! Perkenalkan, namaku Elizabeta Hédérvary, seorang gadis keturunan Hungaria. Seorang murid Gakuen Hetalia. Seorang gadis yang biasa-biasa saja dalam hal pelajaran dan logika, tapi superior dalam pelajaran jasmani dan olahraga. Seorang fujoshi yang paling berbahagia. Gelar 'Master dari Seni Beladiri dengan teflon juga membuatku bangga. Dan kalau kau mau tahu yang lainnya, seorang gadis yang hidupnya penuh warna. Baik warna yang kelam hingga sebaliknya. Dan satu lagi yang perlu kau baca.

Seorang gadis yang dengan bodohnya kini mencintai seorang pemuda albino sok hebat.
Dan setelah si (sok) awesome itu meninggalkanku dengan janji untuk kembali dan menikah, pria itu datang. Seorang aristokrat luar biasa berkebangsaan Austria.

Hmm… kau mau mendengar ceritaku tentang kisah hidupku yang sepenuhnya membingungkan? Ah, bagi orang sepertiku, itu merupakan pujian.

Baiklah. Akan kuceritakan warna kehidupanku mulai dari warna yang paling cerah.
Oh iya. Sebelum aku mulai bercerita, kita persilahkan author untuk ber-disclaimer sejenak.


Hetalia Axis Powers © Hidekazu Himaruya
Bias © Rheyna Rosevelt
WARNING : For IHAFest, Gakuen!AU, (semoga tidak) OOC, human name used, straight pair, typo(s), kalimat berirama tak merata.


Piros (Merah).

Merah, apa yang terbesit di pikiranmu begitu seseorang menyebutkan warna pertama dari pelangi yang merupakan anugerah? Darah? Apel merah? Atau bunga mawar yang indah? Apapun yang kau pikirkan, merah itu bagiku lain halnya.

Merah. Menyebut warna itu, teringat olehku seorang albino bermulut serampangan berwarna mata semerah darah. Seorang yang selalu membuatku tergoda untuk menghantam kepala peraknya dengan salah satu koleksi teflon-teflon pilihan yang ada di rumah. Seorang pemuda yang selalu berteriak-teriak tentang ke-awesome-annya dimanapun ia berada. Mengingatnya saja sudah membuatku pusing kepala.

Teringat olehku kenangan saat aku menjalani hari pertama masuk sekolah Gakuen Hetalia.

Disanalah dia, berdiri bersandar di sebuah tembok bata, sambil tangan pucatnya mengelus bulu kuning seekor burung kecil sebesar bola tenis meja. Aku berdiri sekitar lima meter di depannya, rasa keheranan dan penasaran meliputiku saat aku menatapnya, memandanginya. Siapa dia? Aneh sekali warna matanya, sangat tak lazim meskipun murid-murid di sekolah menengah ini berasal dari berbagai belahan dunia. Memangnya di negara mana ada orang berwarna mata sepertinya?

Dan lihatlah kulitnya. Bagikan tak punya pigmen warna. Atau rambutnya. Keperakan dan bersilau ditimpa sinar sang surya. Albino-kah dia? Sepanjang hidupku belum pernah kutemui orang sepertinya.

Tampaknya ia menyadari aku memperhatikannya. Ia menatapku dengan matanya yang dapat membuat setiap orang mengira ia terkena wabah penyakit mata. Cukup lama ia balas menatap dengan objek pandangan yang sama, hingga aku sendiri bingung karenanya.

"Kenapa memandangiku seperti itu, lady?"

Satu hal yang berhasil kusimpulkan adalah, kelak orang ini pasti pandai menggombal.

"Ah, aku tahu! Pasti karena aku terlalu awesome sehingga menjadi pusat perhatian!"

Kedua. Sok. Sejak kapan kata awesome menjadi sinonim dari albino sepertinya?

"Ya, kan, mein liebe?"

Plak. Sepatu berwarna hitam melayang. Sukses menghentikan omong kosongnya yang tidak berdasar.

Narancs (Jingga)

Jingga, atau oranye, nama bekennya, mengingatkanku pada suatu momen saat aku berada di sebuah pantai bersama pria ini. Ya, pria yang sama dengan diatas.

Hanya butuh waktu beberapa minggu untuk bisa akrab dengannya. Biarpun menyebalkan, ia bisa diandalkan dalam beberapa kesempatan (biarpun terkadang aku tak tahan dengan kata-kata awesome-nya sehingga teflonku yang menanggapi). Ia juga ramah, diluar dugaan. Sehingga aku tak menolak saat ia mengajakku untuk menikmati matahari terbenam di sebuah pantai yang menghadap laut lepas sana.

"Cantik." kataku singkat sambil menatap matahari yang perlahan menghilang, tenggelam ke dalam cakrawala. Desiran ombak lembut terdengar, dan burung camar sesekali terbang melintas.

"Ya, kan?" kataku lagi pada pria yang duduk disampingku, karena lama tak terdengar ocehannya.

Rasanya justru aneh kalau ia diam seperti ini.

Wajah pucat itu menoleh padaku. Alisnya menekuk, mengernyit tanda tak setuju.

"Bagiku tidak." katanya singkat sambil kembali memalingkan wajah menghindari. Kini aku yang mengernyit. Apa maksudnya?

"Masa?" kataku meminta konfirmasi atas apa yang telah ia katakan. Masa pemandangan seindah ini ia anggap tidak cantik? Siapa juga yang mengajakku kemari? Gilbert Beildschmidt, kan?

Gilbert menghela napas sejenak, "Aku takkan menggunakan frasa 'cantik' pada sesuatu bila kau ada di sisiku sebagai pembandingnya."

Aku terpana menatapnya. Mustahil. Apakah ia sedang mencoba merayu? Tapi wajahnya tampak serius.

Dan detik kemudian, ia menoleh dan memamerkan cengirannya seraya berkata, "Ore-sama hebat, kan? Dapat membuatmu terpana seperti itu? Akuilah, Eliza!"

Aku membuat suara seperti orang tersedak. Wajahku merah sempurna. Kupalingkan wajahku darinya. Gilbert tetap tersenyum jahil dan terus menggoda. Pada akhirnya, teflonku yang sakti kembali beraksi.

Sárga (Kuning)

Pagi yang cerah itu hari minggu. Aku berjalan-jalan bersama Gilbert (lagi). Pria itu dengan baik hati bersedia menemaniku berbelanja karena Lilli ada keperluan dengan kakaknya tersayang. Diam-diam insting fujoshiku beraksi, mendeteksi adanya potensi incest diantara dua bersaudara Zwingli itu.

Gilbert rupanya hanya bisa berdiam diri saat aku berceloteh tentang fashion dan selera perempuan saat berjalan melewati beberapa toko besar. Baguslah, aku terkikik dalam hati. Paling tidak, ia bisa membungkam mulutnya untuk beberapa jam ke depan.

Melewati toko demi toko, langkahku terhenti di depan sebah butik besar bercat kuning. Gilbert yang berjalan kelebihan dua langkah, berbalik dan menyusulkan yang menatap dengan kagum ke sebuah gaun berwarna kuning cerah dengan renda putih di sekelilingnya.

"Kau mau?" Untuk pertama kalinya dalam hari ini, ia berbicara padaku. Aku balas menatapnya dengan pandangan memangnya-kau-pikir-wanita-mana-yang-tidak-mau-gaun-seperti-ini? Oh, iya.
Jawabannya kan Natalya. Mana mau gadis psiko asal Belarusia itu memakai gaun.

"Baiklah!" Gilbert berteriak, menarik perhatian orang-orang di sekelilingnya, "Karena ore-sama ini ke-awesome-annya tidak tertahankan, akan kubelikan gaun itu, Elizabeta!"

Aku hanya bisa nyengir minta maaf pada orang-orang yang menatapku dan bergumam 'pasangan
aneh' atas keributan mendadak yang ditimbulkan oleh si sulung Beildschmidt ini. Benar, adiknya, Ludwig, bahkan lebih beradab dari orang ini.

Pria albino itu menarik tanganku dan menerjang masuk menuju butik. Aku hanya bisa pasrah diseret seperti itu. Untung aku menyimpan teflon keramatku di rumah. Bisakah aku menghubungi Arthur dan memintanya merapalkan mantra 'Accio teflon' untukku, ya?

Memasuki butik itu, aku hanya bisa ternganga. Puluhan gaun indah berwarna-warni dipajang. Aku berkeliling untuk melihat-lihat, namun gaun kuning tadi tetap yang mernarik perhatian.

Saat aku keluar dari kumpulan gaun berlengan panjang itu, Gilbert nyengir lebar sambil memamerkan gaun kuning itu. Aku terdiam sejenak, lalu membalas senyumnya dan berlari menyongsongnya.

"Cobalah ini, mein liebe," Gilbert terkekeh kecil mendengar panggilan yang ia gunakan. Aku tak mempedulikan nama panggilan itu dan meraih gaun itu.

Tapi Gilbert mengangkatnya menjauhi jangkauanku. Ia memang jangkung, dan kalau ia mengangkat gaun itu tepat di atas kepala, mana mungkin aku bisa meraihnya?

"Gilbert!" aku berteriak kecil sambil melirik sekeliling. Untunglah butik itu sedang sepi.

Gilbert tersenyum miring, "Cium aku dulu, baru kuberikan."

"Hah?" aku terbelalak. Dasar, sampai sekarang selera humornya masih payah.

Ia memutar bola matanya, "Cium aku, Hédérvary. Masih belum jelas? Atau perlu aku contohkan?"

Tanpa pikir panjang, setengah menggerutu aku berjinjit dan menempelkan bibirku ke pipinya.

Hanya sekilas, lalu kembali berdiri di atas kakiku sendiri. Ia membeku sejenak, lalu kembali memamerkan cengirannya lagi. Tangannya menurun dan membeberkan gaun itu di depan badanku.

Aku menyambarnya dan berlari menuju kamar pas.

Bodoh, bodoh, bodoh, pikirku. Elizabeta, kenapa kau mau saja ditipunya begitu?

Tapi saat aku keluar dari kamar pas dengan gaun itu membalut tubuhku, kutemukan senyum tulus merekah di wajahku.

Zöld (Hijau)

Hijau. Aku selalu teringat akan kenangan di sebuah padang rumput di suatu tempat di Jerman itu.

Gilbert tak menjawab sama sekali pertanyaan-pertanyaan yang kulontarkan padanya. Ia tetap menggandeng tanganku dengan erat menuju tengah padang. Begitu sampai, ia melepaskan gandengannya, lalu dengan lincahnya duduk berhadapan dengan aku yang masih berdiri sambil tetap berbengong ria.

"Duduklah, Eliza."

Hai, aneh. Kenapa dia tidak memanggilku mein liebe lagi seperti biasanya? Dan kenapa suaranya lembut begitu? Benarkah dia ini Gilbert yang selama ini kukenal?

"Oke, kalau tak mau duduk, aku yang berdiri."

Dan mataku yang tak sepenuhnya terfokus karena masih memikirkan keanehan pemuda albino satu ini, dikejutkan oleh adanya gerakan cepat didepanku. Gilbert tiba-tiba berdiri dan mencengkeram kedua lenganku. Aku hanya bisa tersentak. Aku memandang takut-takut padanya. Dan balasannya ialah pandangan tajam tak terkira.

"Dengarkan aku, Eliza," bisiknya pelan, tepat di telingaku, membuatku merinding.

Mulutku terbuka dan tertutup. Hendak mengatakan sepatah kata namun tak sanggup. Aku hanya bisa memandangnya lembali dengan gugup.

"Maafkan aku atas segala kesalahanku, dan aku senang sekali pernah mengenalmu. Maafkan aku, Eliza,"

Oh-oh. Pertanda buruk.

"Aku harus pergi dari Jerman sekarang ini."

Hening
.
.
.
.

"Eh? A-apa?" tanyaku tergagap.

Gilbert membuang muka, "Kubilang, aku harus pergi dari Jerman."

"Ke-kenapa?" tanyaku lagi. Kini cengkeramannya di lenganku sudah melonggar, dan secara refleks aku mencengkeram bahunya.

"Ada satu hal penting yang harus segera kuurus." katanya pendek. Cengkeramanku makin kuat.

"Kemana?"

"Jepang."

Dan aku langsung merasakan tubuhku lemas seketika. Gilbert menangkapku. Ia lalu mendudukkan tubuhku dan berjongkok di sampingku.

"Maafkan aku," bisiknya, "Tapi aku berjanji, setelah kau lulus, kita akan menikah. Semuanya akan serba putih. Ingatlah itu. Putih."

Aku hanya bisa mengangguk. Gilbert menyodorkan jari kelingkingnya. Aku mengamatinya sejenak, lantas menatap pemiliknya.

"Kau berjanji?"

Gilbert mengangguk dengan mantap.

"Aku berjanji!"

Dan dengan senyuman kecil aku mengaitkan jari kelingkingku sendiri padanya.

"Ich liebe dich, Elizabeta." bisik Gilbert seraya mencium keningku.

"Én is szeretlek, Gilbert." bisikku pula, lalu menangis dalam pelukannya.

Kék (Biru)

Pagi itu, aku menatap langit tanpa awan yang membentang di atas. Biru. Sangat biru. Aku memejamkan mataku sambil menghela napas pelan.

"Eliza?"

Aku membuka mataku dan berbalik. Gilbert, sambil membawa kopernya, menatapku dengan tatapan terkejut.

"Halo, kedven Gilbert," kataku sambil tersenyum kecil. Ia memasang wajah normalnya dan bertanya.

"Sedang apa kau?"

"Mengantarmu," kataku pelan, "Sebisa mungkin takkan kulewatkan detik-detik terakhirku bersamamu."

Gilbert tersenyum masam. Ia tak suka aku berpikir seakan-akan aku tak akan pernah bertemu lagi dengannya.

"Dengar, mein liebe," ia menggenggam kedua tanganku, "Aku tak pernah melanggar janjiku, tidak juga kepadamu. Setelah aku pulang nanti, kita akan menikah. Mengerti?"

Aku mengangguk senang.

"Bagus," ia meraih kepalaku dan mencium keningku, "Aku tak akan pernah melupakanmu, dan aku akan selalu merindukanmu. Jaga dirimu."

Aku mengangguk sekali lagi, "Én is szeretlek."

"Ich liebe dich auch, mein liebe Elizabeta."

.
.
.

Aku tertegun. Pesawat yang ditumpangi Gilbert sudah lama mengudara. Setelah melihat arloji, aku
berbalik dan menuju kafetaria. Sisa-sisa air mata kuhapus dari wajah.

Dalam perjalananku menuju kafetaria itulah, aku mendengar melodi indah dari suatu ruangan.

Indigo (Nila)

Aku berhenti di depan ruangan itu dan mengintip lewat celah kecil di pintu yang terbuka.

Dan disanalah untuk pertama kalinya aku melihatnya.

Sosok tegap yang memainkan grand piano dengan jemarinya yang lincah. Matanya tertutup, menampilkan kesan bangsawan. Heran juga. Memangnya di bandara mana lagi disediakan grand piano bagi para pengunjungnya?

Aku terlalu asyik memperhatikan sehingga tak menyadari bahwa celah di pintu itu makin besar karena ku tarik. Tak lama, aku terpeleset dan pintu itu terbuka sepenuhnya. Tubuhku jatuh terjerembab ke depan, dengan wajahku duluan.

Suara piano terhenti. Aku merutuk diriku dalam hati. Bagaimana kalau nanti dia marah? Dasar
Elizabeta ceroboh!

Aku mendongak dan buru-buru memperbaiki posisiku. Aku tersenyum minta maaf dan tertawa garing.

"Maafkan aku. Aku tak sengaja. Habis tadi…"

Tapi ia menjulurkan tangannya, membantuku berdiri. Aku menghentikan tawaku dan menatapnya.

Dan terkejut.

Matanya berwarna violet –tapi aku lebih suka menyebutnya nila-. Tatapannya tenang namun bersahabat. Benar-benar aristokrat sejati. Perlahan aku meraih tangannya. Ia membantuku bangkit.

"Ah, maaf." kataku sambil mengibas-ibaskan rokku. Ia hanya menatapku sebentar, lantas tersenyum kecil.

"Tak apa. Siapa kau?"

"Elizabeta Hédérvary." kataku seraya tersenyum kecil, "Dan kau?"

"Roderich. Roderich Edelstein."

Bíbor (Ungu)

Sudah enam minggu sejak Gilbert meninggalkanku, dan juga sejak aku mengenal Roderich. Aku bahkan baru tahu kalau ia juga personifikasi negara Austria, dan bersekolah di HetaGakuen sepertiku.

Beberapa hari lagi adalah perayaan kelulusan. Aku sedang mendengarkan sebuah lagu ketika seseorang memencet bel pintu rumahku.

"Ya, tunggu sebentar!" seruku, lantas menekan tombol pause dan beranjak menuju pintu.

Tak ada siapa-siapa, pikirku begitu aku membuka pintu. Yang ada malah secarik kertas berwarna putih di lantai. Aku memungutnya dan membacanya pelan.

Huruf-hurufnya berwarna hitam, sementara kertas itu berwarna putih, dengan hiasan berupa gambar bunga lily dan mawar (yang juga berwarna putih) di tepiannya. nantinya, karena tema pestanya nanti adalah 'White Romance'.

Dahiku mengernyit. Putih? Aneh juga. Tapi sepertinya kata 'putih' itu sangat melekat dalam ingatanku. Dimana, ya?

Putih…

Disaat yang sama, Roderich memasuki halaman rumahku. Ia membawa sebuket tulip ungu (Sejujurnya, aku belum pernah melihat tulip ungu). Sambil menggenggam tanganku yang sedikit tersipu, ia berkata.

"Ich liebe dich, willst du meine Freundin sein?"

Aku terhenyak. Sambil mengatur napas, aku menjawab pelan.

"Sajnálom, nem tudtam. Várom, hogy valaki."

Dan aku merasa iba melihat tatapan sedih dari mata ungu –untuk pertama kalinya kuperhatikan, dan warna matanya ternyata ungu- itu.

Maafkan aku, Roderich.

Aku memang menunggu seseorang.

Weiß (Putih)

Bias. Tujuh warna pelangi itu membiaskan satu warna.

Putih.

Spektrum warna. Betapa aku sangat suka memandang pelangi di kala hujan reda. Betapa aku menyukai tiga warna.

Merah dan hijau.

Dan kini, bertambah satu lagi.

Putih.

Merah, hijau, putih. Warna bendera Hungaria saat kini.

.
.
.

Aku memutar tubuhku di depan cermin. Gaun putih selutut dengan hiasan bunga itu tampak pas di
tubuhku. Stiletto putih telah bertengger di kakiku. dengan langkah riang, aku menuju ke komplek HetaGakuen, menghadiri perayaan kelulusan.

Perayaan yang akan sepi tanpa Gilbert tersayang.

.
.
.

Aku memasuki ruangan megah bercat putih yang dulunya adalah aula besar HetaGakuen. Dari luar sudah tercium harum bunga lilac, mawar, freesia, dan lainnya. Pita-pita besar dan hiasan berwarna putih digantung di luar. Aku hendak meraih gagang pintu ketika sebuah suara mengejutkanku.

"Eliza!"

Aku terkaget dan berbalik. Ternyata Bella. Gadis Belgia itu mengenakan gaun selutut berwarna putih, dan bandana yang ia kenakan juga berwarna putih. Benar-benar sesuai dengan tema pesta.

"Jangan masuk dulu," katanya riang, "Sekarang, tutup matamu."

Aku terheran-heran namun menurut. Ia menggandengku masuk. Begitu berada di dalam (dengan mata tertutup), bau semerbak bunga-bungaan itu langsung memenuhi indra penciumanku.

"Mawar, freesia, lilac," kataku. Kudengar Bella terkikik.

"Bagus sekali, Eli," katanya, "Yang tidak kau sebut hanya tulip."

Aku mendengus. "Bah, tak ada yang tahu bagaimana harumnya tulip tahu!"

"Aku tahu," katanya, "Nah, inilah dia."

Begitu mataku terbuka, tepukan riuh bergemuruh di sepanjang aula. Aku mengusap mata, dan terpekik kecil ketika sebuah buket mawar putih mendarat di pelukan. Beberapa bersiul. Dan aku tahu penyebabnya begitu aku melihat ke depan.

Gilbert. Dengan jas putih. tersenyum miring –senyuman favoritku-. Mengulurkan tangannya padaku.

" Ich kam nach Hause, Eliza."

Oh, yeah. Segalanya akan berakhir dengan happy ending. Putih, akhir dari seluruh kisah kehidupanku –maaf, aku salah-.

Maksudku, awal dari segalanya.

~Fin

Kamus :
Mein liebe (Deutsch) : Sayangku.
Ich liebe dich, Elizabeta (Deutsch) : Aku mencintaimu, Elizabeta.
Én is szeretlek, Gilbert (Magyar) : Aku mencintaimu, Gilbert.
Kedven Gilbert (Magyar ): Sayangku Gilbert.
Ich liebe dich auch, mein liebe (Deutsch) : Aku juga mencintaimu, sayangku.
Ich liebe dich, willst du meine Freundin sein (Deutsch) : Aku mencintaimu, maukah kau menjadi kekasihku?
Sajnálom, nem tudtam.Várom, hogy valaki (Magyar) : Maaf, aku tak bisa. Aku sedang menunggu seseorang.
Ich kam nach Hause, Eliza (Deutsch) : Aku pulang, Eliza.

This fan-fiction also published on fanfiction.net.
Link : Bias